Archive for the ‘Sajak-sajakku’ Category

Harapku Padamu

kau itu gemintang pada rinduku yang sinarnya adalah harapan dari segala cinta..
padamulah aku disini menanti dibentang cakrawala birunya pemandu jiwajiwa..
aku titipkan salam pada kepakan seribu awan dalam pintas angan yang membayu..
aku rindu seperti saat bertemu dimana kala itu kau bertamu dihatiku..
jangan usai sayang.. jangan, kaulah satusatu nya harapanku..
kaulah tumpuan hidupku hingga menua..
ketika pucukpucuk kita tak lagi muda..
kaulah harapan dijejaring impian yang kelok jalannya tertempuh hingga waktu takdir berkehendak..
tak urung kuhapus jejak kita disatu lingkaran yang tengahnya bertulis prasasti memuja..
ada namaku dan namamu disatu bingkisan yang menjadi kenangan disetaman harapan kita..
lihatlah sayang pada lelangit biru..
berapakah sudah banyaknya doa kupanjatkan hanya untuk kita.. ya, hanya untuk kita..
karena harapanku padamu begitu syahdu hingga ajal ada padaku..
begitu banyak arak telah kutenggak..
entah ini kemabukanku yang keberapa kali dan kali ini aku pun menenggaknya kembali..
kau buat aku tak peduli pada sepi..
kau buat aku tak berdaya sendiri..
aku kagumi kau selayak bunga dimusim semi..
ditatihku aku menepi pada mimpi akan dirimu..
disini wahai kekasih hati..

* Lukisan tentangmu *

lengkung bibir sabit
mengapit malam kian sempit
mencuri gemerlap bintang
tiada lagi membentang

meski kembali kuasku memberi
bintang kerap kau curi
maka kubiarkan malam apa adanya
menjadi temanmu dalam pigura

* Rahim dari Ibukota *

ada anak-anak bangsa
tak berbusana etika
dilema di mana-mana

menjadi debu, polusi
dan sampah politisi
dihakimi negeri sendiri

* Rantau *

buyung sekarang pandai berdagang
dijualnya suara hingga istana

ucok makin lihai bergurau
dibelinya dengan harga murah

jauh dari seberang
pantang kapal menabrak karang

☼ Meretas Pagi ☼

Aku terjaga

Mimpiku tak juga siaga

Mataku terbuka

Tirai jendela masih juga menggoda

Mengalun manja dalam terpa

Bayu yang terus mengembus

Sinyalir aroma embun membius

Merajuk tandangnya mentari

Pada suara-suara yang menelan sunyi

Batinku beranjak melahirkan jejak

Meretas pagi menghangatkan sajak

Dalam benak yang lindap

Dalam elegi yang lesap

Aku ingin mentari

Tersaji mengubah mimpi

Bahwa diri tetap ada

Untuk sebuah cita

♥ Cerita Hujan di Kota Tua ♥

to: Vischa Anjani

Langit memuram menudung geram

Matahari lebam guntur mengecam

Mendung segera datang

Menelan terik panjang

Rintik mulai ritmis

Bagai peri yang menangis

Haru dalam deru kota tua

Di selembar cerita cinta

Yang basah tergenang kubang

Yang basah melumur kenang

Kita debu yang menjadi lumpur

Dan kisah ini pun berumur

◄ Menyita Bayangmu ►

Hari boleh saja berlalu menautkan sisa-sisa waktu

Meski rentan akan bekunya rindu, hatiku berpacu

Menjaring malam kantongi rembulan di laci kamarku

Semua tak cukup ku ungkap

Dan kembali terdekap

Menyita bayangmu yang lelap


Hari masih saja melulu menempatkan kerangka lalu

Selalu tentangmu di sepiku, mataku berlagu

Sehampar bintang sebentang terang di sudut ruang

Sesuatu hal ku mesti berucap

Bahwa dirimu sang gemerlap

Namun kusita bayangmu yang lindap