sajak yang menanti di simpang jalan

aku dan waktu saling menatap di tiap liku
di ujung temu detik, menit dan jam terus berlalu
seperti malas bertamu disela aku memburumu
cemas dan juga curiga kian mencumbu

aku tak menahu tentang aral yang kau temu
di hari itu hatiku serupa menangkis peluru
tajam menghujam hampir aku tersungkur
bertaruh disengketa waktu yang tiada jua berlalu

sayangku, lahirlah sajak ini di simpang jalan
saat terakhir mataku tak lagi jumpa wajahmu
aku dimakan kekeliruan dan prasangka
dan waktu menjebakku lebih lama lagi

tak ada teriakku kepada bumi selain langit
yang mengajakmu terbang menjauh dariku
kini aku sungguh tersungkur di sisa umur
mengkafani peristiwa yang lebih dulu mati

cintaku, aku sudah takut bertaruh lagi
menyepakati keadaan sesuai keinginan
aku tahu roda nasib terus berjalan
pemikiran pun berganti sehaluan zaman

tak mungkin harap pada bintang jatuh
tak jua aku menipu rasa yang hilang
rasaku sudah tertanam dalam jauh
sejak janji kita muat di simpang jalan

Iklan
%d blogger menyukai ini: