Sajak Penyapu Jalan

lengang kota lewat sepertiga
malam memudar di gelar pagi
kaki-kaki pengais mulai bekerja
menyapu kegundahan di tepi jalan
siapa yang tak tergoda pada belia
ratusan bahkan ribuan mata singgah

elok nan permai adalah sebuah cita
bagai permata di belahan jiwa
jasa-jasa terlalu biasa dilupa
waktu sejarah tanah ini dibela
berserak tulang darah juga airmata
hampir masa tua tiada jua merdeka

riuh kota gaduh menyampah
siang memanggang pahlawan jalan
bersenjata sapu dan bak sampah
dikaisnya kembali segala gundah
sebelum Bogor mengirim pesan
bahwa Jakarta harus siap siaga

Iklan
%d blogger menyukai ini: