Archive for Juli, 2010

sajak yang menanti di simpang jalan

aku dan waktu saling menatap di tiap liku
di ujung temu detik, menit dan jam terus berlalu
seperti malas bertamu disela aku memburumu
cemas dan juga curiga kian mencumbu

aku tak menahu tentang aral yang kau temu
di hari itu hatiku serupa menangkis peluru
tajam menghujam hampir aku tersungkur
bertaruh disengketa waktu yang tiada jua berlalu

sayangku, lahirlah sajak ini di simpang jalan
saat terakhir mataku tak lagi jumpa wajahmu
aku dimakan kekeliruan dan prasangka
dan waktu menjebakku lebih lama lagi

tak ada teriakku kepada bumi selain langit
yang mengajakmu terbang menjauh dariku
kini aku sungguh tersungkur di sisa umur
mengkafani peristiwa yang lebih dulu mati

cintaku, aku sudah takut bertaruh lagi
menyepakati keadaan sesuai keinginan
aku tahu roda nasib terus berjalan
pemikiran pun berganti sehaluan zaman

tak mungkin harap pada bintang jatuh
tak jua aku menipu rasa yang hilang
rasaku sudah tertanam dalam jauh
sejak janji kita muat di simpang jalan

Iklan

Sajak Penyapu Jalan

lengang kota lewat sepertiga
malam memudar di gelar pagi
kaki-kaki pengais mulai bekerja
menyapu kegundahan di tepi jalan
siapa yang tak tergoda pada belia
ratusan bahkan ribuan mata singgah

elok nan permai adalah sebuah cita
bagai permata di belahan jiwa
jasa-jasa terlalu biasa dilupa
waktu sejarah tanah ini dibela
berserak tulang darah juga airmata
hampir masa tua tiada jua merdeka

riuh kota gaduh menyampah
siang memanggang pahlawan jalan
bersenjata sapu dan bak sampah
dikaisnya kembali segala gundah
sebelum Bogor mengirim pesan
bahwa Jakarta harus siap siaga