sajak yang menanti di simpang jalan

aku dan waktu saling menatap di tiap liku
di ujung temu detik, menit dan jam terus berlalu
seperti malas bertamu disela aku memburumu
cemas dan juga curiga kian mencumbu

aku tak menahu tentang aral yang kau temu
di hari itu hatiku serupa menangkis peluru
tajam menghujam hampir aku tersungkur
bertaruh disengketa waktu yang tiada jua berlalu

sayangku, lahirlah sajak ini di simpang jalan
saat terakhir mataku tak lagi jumpa wajahmu
aku dimakan kekeliruan dan prasangka
dan waktu menjebakku lebih lama lagi

tak ada teriakku kepada bumi selain langit
yang mengajakmu terbang menjauh dariku
kini aku sungguh tersungkur di sisa umur
mengkafani peristiwa yang lebih dulu mati

cintaku, aku sudah takut bertaruh lagi
menyepakati keadaan sesuai keinginan
aku tahu roda nasib terus berjalan
pemikiran pun berganti sehaluan zaman

tak mungkin harap pada bintang jatuh
tak jua aku menipu rasa yang hilang
rasaku sudah tertanam dalam jauh
sejak janji kita muat di simpang jalan

Sajak Penyapu Jalan

lengang kota lewat sepertiga
malam memudar di gelar pagi
kaki-kaki pengais mulai bekerja
menyapu kegundahan di tepi jalan
siapa yang tak tergoda pada belia
ratusan bahkan ribuan mata singgah

elok nan permai adalah sebuah cita
bagai permata di belahan jiwa
jasa-jasa terlalu biasa dilupa
waktu sejarah tanah ini dibela
berserak tulang darah juga airmata
hampir masa tua tiada jua merdeka

riuh kota gaduh menyampah
siang memanggang pahlawan jalan
bersenjata sapu dan bak sampah
dikaisnya kembali segala gundah
sebelum Bogor mengirim pesan
bahwa Jakarta harus siap siaga

Harapku Padamu

kau itu gemintang pada rinduku yang sinarnya adalah harapan dari segala cinta..
padamulah aku disini menanti dibentang cakrawala birunya pemandu jiwajiwa..
aku titipkan salam pada kepakan seribu awan dalam pintas angan yang membayu..
aku rindu seperti saat bertemu dimana kala itu kau bertamu dihatiku..
jangan usai sayang.. jangan, kaulah satusatu nya harapanku..
kaulah tumpuan hidupku hingga menua..
ketika pucukpucuk kita tak lagi muda..
kaulah harapan dijejaring impian yang kelok jalannya tertempuh hingga waktu takdir berkehendak..
tak urung kuhapus jejak kita disatu lingkaran yang tengahnya bertulis prasasti memuja..
ada namaku dan namamu disatu bingkisan yang menjadi kenangan disetaman harapan kita..
lihatlah sayang pada lelangit biru..
berapakah sudah banyaknya doa kupanjatkan hanya untuk kita.. ya, hanya untuk kita..
karena harapanku padamu begitu syahdu hingga ajal ada padaku..
begitu banyak arak telah kutenggak..
entah ini kemabukanku yang keberapa kali dan kali ini aku pun menenggaknya kembali..
kau buat aku tak peduli pada sepi..
kau buat aku tak berdaya sendiri..
aku kagumi kau selayak bunga dimusim semi..
ditatihku aku menepi pada mimpi akan dirimu..
disini wahai kekasih hati..

* Lukisan tentangmu *

lengkung bibir sabit
mengapit malam kian sempit
mencuri gemerlap bintang
tiada lagi membentang

meski kembali kuasku memberi
bintang kerap kau curi
maka kubiarkan malam apa adanya
menjadi temanmu dalam pigura

* Rahim dari Ibukota *

ada anak-anak bangsa
tak berbusana etika
dilema di mana-mana

menjadi debu, polusi
dan sampah politisi
dihakimi negeri sendiri

* Rantau *

buyung sekarang pandai berdagang
dijualnya suara hingga istana

ucok makin lihai bergurau
dibelinya dengan harga murah

jauh dari seberang
pantang kapal menabrak karang

☼ Meretas Pagi ☼

Aku terjaga

Mimpiku tak juga siaga

Mataku terbuka

Tirai jendela masih juga menggoda

Mengalun manja dalam terpa

Bayu yang terus mengembus

Sinyalir aroma embun membius

Merajuk tandangnya mentari

Pada suara-suara yang menelan sunyi

Batinku beranjak melahirkan jejak

Meretas pagi menghangatkan sajak

Dalam benak yang lindap

Dalam elegi yang lesap

Aku ingin mentari

Tersaji mengubah mimpi

Bahwa diri tetap ada

Untuk sebuah cita